Sabtu, 28 Agustus 2010

Stigmatisasi Menghancurkan Peradaban Bangsa Papua


Berkembangnya peradaban suatu bangsa membutuhkan proses dan dibutuhkan para kaum visioner yang mampu melakukan terobosan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia. Kemajuan peradaban suatu bangsa sangat ditentukan dari latar belakang budaya, praktek ekonomi, pendidikan, sosial politik, letak ekologis, dan lain sebagainya. Peradaban dunia kuno yang dikatakan sebagai bangsa termaju adalah peradaban Timur Tengah pada abad 2500 Sebelum Masehi dimana mulai mengenal tradisi tulis-menulis dengan pola yang sangat sederhana. Pada jaman inilah struktur kemasyarakatan dari kesukuan menjadi Kerajaan. Timur Tengah sebagai pencetus peradaban manusia kuno dengan membuka sekolah-sekolah. Mula-mula sekolah-sekolah yang didirikan dalam rangka mempersiapkan orang yang mampu berkomunikasih dalam berdiplomasi, dalam dan luar negeri, serta disiapkan pegawai-pegawai di Istana Raja, entah menjadi panitera, sekretaris, imam, hakim, dan nabi di Istana Raja. Pengaruh Timur Tengah ini berdampak juga di Israel sejak Raja Daud berkuasa di Israel. Baik Timur Tengah kuno dan Israel mendirikan sekolah-sekolah agar dipersiapkan tenaga-tenaga yang professional yang nantinya dipekerjakan di Istana Raja, bahkan menjadi diplomat di luar negeri.
Kemajuan itu terjadi karena dilatarbelangi oleh tradisi tulis-menulis. Budaya tulis-menulis inilah yang melahirkan pelbagai filsuf, pertama-tama muncul di Yunani. Seiring dengan perputaran waktu, peradaban manusia mulai berkembang ke pelbagai pelosok planet bumi.
Kemajuan dibidang ilmu dan teknologi canggih berkembang akibat pengaruh para pemikir kuno di Timur Tengah. Keingin-tahuan manusia mulai meningkat, maka para pemikir bertanya dan terus bertanya sambil mencari hakekat yang hakiki, sambil mencari solusi-solusi alternatif untuk menjawab permasalahan yang dihadapi manusia. Keingin-tahuan yang didukung oleh budaya tulis-menulis mengakibatkan ilmu dan teknologi berkembang makin pesat. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah mengantar manusia melahirkan pelbagai hal yang spektakuler di pelbagai belahan dunia. Misalnya kemajuan Amerika Serikat adalah pengaruh dari para pemikir bangsa Israel yang berdominsili di Amerika Serikat.
Perkembangan peradaban suatu bangsa yang kemudian mendirikan suatu Negara ditentukan oleh tokoh-tokoh visioner yang mampu melahirkan pelbagai hal-hal baru. Cina yang dikenal sebagai pengusaha kelas kakap di dunia, justru dipacuh oleh latar belakang peradaban budaya, ekonomi, politik, dan lain sebagainya.
Kebanyakan bangsa-bangsa di dunia yang sudah menjadi merdeka (berdaulat) dan masih berjuang untuk suatu kebebasan, adalah bangsa-bangsa yang menganut budaya lisan, dan cara pandang terhadap segala sesuatu. Faktor budaya lisan dan faktor penghambat lain, inilah yang menghambat perkembangan peradaban suatu bangsa. Pada umumnya latar belakang peradaban bangsa-bangsa di Indonesia tidak mengenal istilah budaya tulis-menulis. Dampak dari faktor ini mengakibatkan perkembangan peradaban di Indonesia masih membutuhkan keuletin dan para membutuhkan para tokoh pemikir (visioner).
Dalam pelbagai kesempatan para pejabat Indonesia selalu merendahkan peradaban bangsa-bangsa lain di Indonesia, misalnya Papua. Para pejabat yang nota benenya kebanyakan dari bangsa Jawa selalu mengatakan bahwa bangsa Papua adalah bangsa yang primitif (terbelakang), tidak kreatif, bodoh, tidak inovatif, tidak miliki jiwa interprenur, dan lain sebagainya. Mereka merasa bahwa peradaban Negara Indonesia telah maju, khususnya di Jawa. Ironisnya ialah bahwa Negara Indonesia adalah negara miskin, dan masih digolongkan ke dalam negara berkembang alias dunia ketiga. Para pejabat Indonesia yang kebanyakan berasal dari Jawa ini menepuk dada bahwa mereka akan menjadi negara maju, sama seperti negara lain di dunia, misalnya Amerika, China, Jepang; tetapi menurut penulis ini hanya impian belaka. Ambisi menjadi sebuah Negara maju superpower, tetapi kemampuan Indonesia dalam mengimbangi perkembangan dibidang ilmu dan teknologi masih rendah. Menurut pengamatan penulis ambisi besar, tetapi tidak diimbagi dengan kemampuan dan tindakan kreasi dalam melahirkan hal-hal spektakuler.
Sesugguhnya tindakan para pejabat Indonesia yang mana melecehkan peradaban bangsa Papua dengan pelbagai stigimatisasi yang miring dapat dikatakan sebagai tindakan manusia yang tidak beradab. Manusia yang beradab tentu ia menghargai apa pun peradaban bangsa lain, manusia yang beradab, tentu memberi teladan dengan tindakan nyata, bukan dengan kata-kata penghinaan; manusia yang beradab tentu akan mengarahkan orang lain untuk melakukan pelbagai terobosan. Pertanyaannya ialah bahwa bagaimana mungkin Negara Indonesia yang dikategorikan sebagai negara miskin membimbing manusia lain untuk berkembang? Bagaimana mungkin buta bimbing buta? Jika inilah yang terjadi, maka mereka masuk ke dalam jurang kehancuran.
Ketidak-mampuan Negara Indonesia dalam segala line terbentang luas di depan mata, namun segala kelemahannya itu dianggap sebagai hal yang biasa (wajar), maka itu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme membudaya dalam kelangsungan ketatanegaraan Indonesia. KKN adalah bukti dari suatu peradaban Indonesia yang telah membudaya dan masih dipraktekan sampai detik ini.
Peradaban Negara Indonesia yang dilandaskan pada kebohongan dan kebodohan, telah melahirkan buah-buahnya, yakni stigmatisasi bangsa lain, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; kekerasan, diskriminasi, pelecehan, terror, intimidasi, penghinaan, ketidak-adilan, pembantaian, dan lain sebagainya. Bagaimana mungkin Negara Indonesia membangun peradaban bangsa Papua, jika Negara Indonesia sendiri tidak memiliki peradaban bangsa yang kokoh. Orang Papua memahami betul bahwa selama bangsa Indonesia berada di bawah kungkungan NKRI, maka selama itulah peradaban bangsa Papua tidak akan pernah maju.
Stigmatisasi bodoh, jijik, kotor, terbelakang, tidak mampu, tidak kreatif, tidak interprenur, OPM, Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), separatis, manusia kera, pemalas, peminum, dan sebagainya adalah tindakan pembunuhan psikologis orang Papua atau pembunuhan karakter orang Papua. Bagaimana mungkin orang Papua berkembang, jika setiap saat orang Papua dihujani dengan pelbagai stigmatisasi dari orang Indonesia. Justru stigmatisasi inilah yang mengakibatkan karakter (psikologi) orang Papua dihancurkan, maka mana mungkin orang Papua mengembangkan segala bakat dan minatnya untuk mencapai peradabannya. Misalnya, dalam keluarga, jika orang tua atau sanak-saudari mengatakan kepada anak-anaknya distigmatisasi negatif, misalnya dicap bodoh. Kata-kata ini diulang terus-menerus, maka kata “bodoh” ini terpatri dalam jiwa anak itu; kemana pun anak itu pergi, kata “bodoh” itu terus terusik dalam jiwanya seiring perkembangan usia. Ketika dihadapkan pada sesuatu masalah, ia merasa bahwa dia tidak mampu, bodoh dan tak berdaya, tak ada semangat untuk mencoba, tidak ada daya untuk menguji kemampuannya. Hal ini disebabkan karena karakter (psikologi) anak itu telah dibunuh (dihancurkan) oleh orang tua atau sanak-saudaranya dengan stigmatisasi “bodoh”. Hal serupa sudah dan sedang dialami oleh orang Papua yang berada dalam stigmatisasi Negara Indonesia.
Camkanlah bahwa stigmatisasi ini tak akan mampu mematahkan atau meredam perjuangan bangsa Papua untuk mengembalikan jati diri yang telah dirampas dan dihancurkan oleh Negara Indonesia bersama sekutunya yang tidak menghargai harkat dan martabat manusia Papua. Buktinya bahwa Timur Leste yang dihujani dengan pelbagai stigmatisasi oleh Indonesia, namun mereka berjuang dengan satu tekad penentuan nasib sendiri, maka pada tahun 1999 Timur Leste telah menjadi Negara berdaulat. Tembok stigmatisasi Indonesia yang memenjara Timur Leste telah dihancurkan melalui sebuah referendum yang mengantar pada satu kemenangan yakni “kemerdekaan” Timur Lorosae.
Ironisnya setelah Timur Leste memerdekakan diri pada tahun 1999 melalui pilihan bebas, stigmatisasi itu masih diwacanakan dalam pelbagai kesempatan oleh pejabat Indonesia dan rakyat tertentu dalam upaya membunuh karakter orang Papua untuk tidak berjuang. Misalnya pada bulan Juli 2010 penulis mewawancari KAKANWIL DEPHUKAM Propinsi Papua, (Nasarudin Bunas) mengatakan: “Kemerdekaan itu tidak harus berpisah dari NKRI, bagaimana dia merdeka dalam ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya itulah yang harus diperjuangkan oleh orang Papua. Saya tidak yakin, Papua ini terlepas dan setelah lepas Papua akan sejahtera. Misalnya Timur Leste menjadi negara miskin, setelah merdeka. Saya belum yakin, bahwa Papua merdeka hari ini, saya belum yakin… saya belum yakin”[2] katanya. Inilah cara–cara pejabat Indonesia untuk membangun suatu asumsi dengan parameter pemahamannya yang kontra dengan kenyataan di Timur Leste.
Berikut ini kutipan wawancara dengan seorang korban kekerasan yang pernah mengikuti kegiatan pelatihan di Timur Leste: “jika dibanding dengan Indonesia dan Timur Leste, saya melihat Indonesia belum merdeka secara total. Di Timor Leste kebebasan berpendapat diberi ruang, dan tak ada hambatan dalam penyampaian aspirasi. Ketemu para pejabat, termasuk ketemu presiden Timur Leste pun tidak berbelit-belit, tidak sama seperti di Indonesia…. Saya membayangkan bahwa dalam waktu yang singkat Timur Leste akan maju dibanding dengan NKRI yang sudah genap 65 tahun merdeka secara politik, namun rakyatnya belum merdeka dibidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lebih penting adalah merdeka dari rasa takut, dikucilkan, dilecehkan, stigmatisasi, ketidak-adilan, dan diskriminalisasi”,[3] kenangnya.
Peradaban bangsa Timor Leste tak dapat dibangun oleh bangsa-bangsa lain di dunia; misalnya Negara Portugal dan Negara Indonesia yang pernah menjajahnya; hanyalah orang Timur Leste yang dapat membangun bangsanya sendiri. Demikian pula peradaban Bangsa Papua tak dapat dibangun oleh bangsa-bangsa lain di dunia yang menepuk dada bahwa merekalah bangsa yang beradab, yang mengagung-agungkan merekalah bangsa maju, terdidik, terlatih, terampil dan ulet. Camkanlah bahwa suatu saat peradaban bangsa Papua akan dibangun oleh putra-putri terbaik bangsa Papua yang terpilih, visioner, terdidik, terlatih, ulet, terampil, inovatif dan kreatif. Inilah kutipan Izak Samuel Keijne yang mengukir-abadikannya di atas sebuah batu: “Bangsa-bangsa lain di dunia tidak akan mampu membangun Tanah Papua, tetapi suatu saat bangsa ini akan bangkit dan akan membangun bangsanya sendiri”. Inilah sebuah visi Tuhan yang disampaikan oleh seorang nabi, hamba Tuhan, sang visioner I. S. Keijne. Dalam pelbagai kesempatan, bangsa Papua selalu mengaminkan visi ini karena visi Tuhan ini pasti akan digenapi.
Bangsa Papua yang Anda stigmatisasi ini, suatu saat ia akan tampil menjadi bangsa yang memberkati bangsa-bangsa. Hari ini Anda merendahkan martabat manusia Papua, hari ini Anda meremehkan peradaban bangsa Papua, tetapi suatu saat, bangsa ini akan mengangkat martabat bangsanya; suatu saat, bangsa ini akan membangun peradaban bangsanya di atas Tiga Hukum Dasar, yakni: Hukum Adat, Hukum Agama dan Hukum Nasional, yang disebut: Tiga Hukum Dasar (foundation law three) yang adalah Tiga Hukum Dasar Pelatak Peradaban Bangsa Papua.
Di atas tiga hukum dasar ini, akan berdirilah suatu peradaban bangsa yang kokoh di Ufuk Timur dengan panji-panji kemegahan jati diri bangsa Papua “Sang Bintang Fajar” yang gilang memilang, dan nyanyian syukur yang menawan hati “Hai Tanahku Papua” serta lambang ketulusan bangsa Papua “Burung Mabruk” yang akan berjaja selamanya di atas sebuah panji-panji kemenangan “Hanya Tuhanlah Pembebas, Raja Kami”.
Demi membangun peradaban bangsa Papua, dibutuhkan pengorbanan yang tiada taranya dari setiap pribadi orang Papua dan simpatisan. Peradaban bangsa Papua harus dibangun di atas beberapa kekuatan, antara lain: “Kekuatan Kita adalah Doa (Alkitab) Kita; Kekuatan Kita adalah Komitmen Kita; Kekuatan Kita adalah Persatuan Kita; Kekuatan Kita adalah Tindakan Kita; dengan berlandaskan kekuatan-kekuatan ini, orang Papua pasti akan membangun peradaban bangsanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar